Mendinginkan Semarang, Bisakah?

Posted on April 25, 2010

48


Banyak teman-teman yang bilang kalau Kota Semarang sudah bertambah panas saat ini. Benarkah atau hanya perasaan kita saja? Mari kita lihat fakta-fakta pemanasan global di Semarang.

Dampak Pemanasan Global
Fakta dibawah ini merupakan hasil investigasi yang dilakukan oleh FoE Japan & LSM BINTARI, Semarang. Kondisi ini merupakan dampak kenaikan suhu secara global terhadap aktivitas masyarakat sehari-hari di Semarang dan Yogyakarta:

  • Dari tahun 1986 hingga 2006 kenaikan suhu udara mencapai 0,2 derajat celcius.
  • Angka bencana alam seperti kekeringan ataupun badai meningkat sehingga potensi terjadinya longsor di beberapa daerah menjadi lebih besar (studi kasus di Yogyakarta)
  • Petani mengalami penurunan pendapatan karena penurunan hasil produksi secara drastis. Penurunan hasil produksi ini karena kekurangan ketersediaan air bersih. Selain penurunan produksi, kekurangan air ini ternyata juga bisa memicu konflik antar warga memperebutkan ketersediaan air bersih.
  • Musim hujan mulai lebih awal dan berlangsung lebih singkat (perubahan pola musim)
  • Beberapa sumber penyakit seperti demam berdarah dan malaria dengan mudah akan menyebar karena nyamuk-nyamuk pembawa penyakit tersebut berkembang biak secara cepat dengan naiknya suhu.

Apa yang Dapat Kita Lakukan
Kalau membaca kondisi-kondisi diatas kita jadi percaya bahwa dampak pemanasan global terhadap kehidupan kita sehari-hari memang ada. Walaupun ada pendapat seperti yang dikemukakan Ichanx bahwa pemanasan global ini merupakan sesuatu yang wajar akibat bertambahnya jumlah manusia dan aktivitasnya di bumi.  Tetapi kita sepakat dalam 1 hal bahwa kita memang harus menghemat penggunaan sumber daya yang tidak dapat terbarukan.

Kita harus belajar lebih care memperhatikan kegiatan kita sehari-hari yang berdampak pada perubahan kondisi lingkungan kita. Langkah-langkah kecil seperti mematikan penggunaan listrik yang tidak perlu, mengurangi menerima plastik ketika berbelanja dengan menggunakan tas belanja sendiri, tidak membawa makanan ke rumah dari tempat makan atau warung sehingga mengurangi potensi sampah hingga mengolah sisa sampah organik rumah tangga dengan kotak kompos takakura, menurut saya sudah bisa membantu dalam skala rumah tangga.

Pertanyaannya adalah apa benar jika gaya hidup kita lebih ramah lingkungan dan dilakukan oleh sejumlah besar masyarakat bisa benar-benar menghemat penggunaan sumber daya yang tak terbarukan? Terlebih lagi membantu mengurangi dampak-dampak negatif pemanasan global diatas.

Pertanyaan tersebut mungkin masih belum terjawab hingga saat ini karena belum ada data yang keluar mengenai hal ini. Data dari kegiatan Earth Hour  jika 10% dari masyarakat Jakarta mengikutinya sudah bisa menghemat penggunaan listrik sebesar 300MWh atau bisa mematikan 1 pembangkit listrik. Yang artinya lebih menghemat penggunaan batu bara (sumber listrik kita masih berbahan bakar fosil) dan potensi polusi yang dihasilkan dari kegiatan produksi listrikpun berkurang. Kita tentu sudah bisa membayangkan berapa besar pengaruh kebiasaan mematikan lampu yang tidak digunakan, jika dilakukan oleh banyak orang dalam waktu yang bersamaan.  Akhirnya dari aktivitas mematikan lampu saja berpotensi  mengurangi dampak negatif dari pemanasan global.

Bagaimana Dengan Penghijauan?
Sekali-kali kita perlu juga ngobrolin dalam skala yang lebih luas sedikit. Kali ini soal penghijauan. Penghijauan memang salah satu solusi untuk mengurangi dampak negatif pemanasan global karena pohon menyerap CO2 dan melepas oksigen ke udara.  Menurut teman-teman efektif gak sih melakukan penghijauan untuk mengurangi dampak pemanasan global? Komen teman-teman akan saya gunakan untuk tema update postingan yang berikutnya.

Silahkan utarakan pendapatmu dikolom komen dibawah ini (sampai 30 April 2010) dan komen yang paling nyangkut menurut saya akan mendapatkan tote bag seperti yang didapatkan Dilla si Kepikcantik dibawah ini. Oh iya kali ini tersedia 2 tote bag yah.

PS: Gambar diambil dari blog posterous Dilla

About these ads
Posted in: lingkungan, opini