bumikepanasan

Mendinginkan Semarang, Bisakah?

Banyak teman-teman yang bilang kalau Kota Semarang sudah bertambah panas saat ini. Benarkah atau hanya perasaan kita saja? Mari kita lihat fakta-fakta pemanasan global di Semarang.

Dampak Pemanasan Global
Fakta dibawah ini merupakan hasil investigasi yang dilakukan oleh FoE Japan & LSM BINTARI, Semarang. Kondisi ini merupakan dampak kenaikan suhu secara global terhadap aktivitas masyarakat sehari-hari di Semarang dan Yogyakarta:

  • Dari tahun 1986 hingga 2006 kenaikan suhu udara mencapai 0,2 derajat celcius.
  • Angka bencana alam seperti kekeringan ataupun badai meningkat sehingga potensi terjadinya longsor di beberapa daerah menjadi lebih besar (studi kasus di Yogyakarta)
  • Petani mengalami penurunan pendapatan karena penurunan hasil produksi secara drastis. Penurunan hasil produksi ini karena kekurangan ketersediaan air bersih. Selain penurunan produksi, kekurangan air ini ternyata juga bisa memicu konflik antar warga memperebutkan ketersediaan air bersih.
  • Musim hujan mulai lebih awal dan berlangsung lebih singkat (perubahan pola musim)
  • Beberapa sumber penyakit seperti demam berdarah dan malaria dengan mudah akan menyebar karena nyamuk-nyamuk pembawa penyakit tersebut berkembang biak secara cepat dengan naiknya suhu.

Apa yang Dapat Kita Lakukan
Kalau membaca kondisi-kondisi diatas kita jadi percaya bahwa dampak pemanasan global terhadap kehidupan kita sehari-hari memang ada. Walaupun ada pendapat seperti yang dikemukakan Ichanx bahwa pemanasan global ini merupakan sesuatu yang wajar akibat bertambahnya jumlah manusia dan aktivitasnya di bumi.  Tetapi kita sepakat dalam 1 hal bahwa kita memang harus menghemat penggunaan sumber daya yang tidak dapat terbarukan.

Kita harus belajar lebih care memperhatikan kegiatan kita sehari-hari yang berdampak pada perubahan kondisi lingkungan kita. Langkah-langkah kecil seperti mematikan penggunaan listrik yang tidak perlu, mengurangi menerima plastik ketika berbelanja dengan menggunakan tas belanja sendiri, tidak membawa makanan ke rumah dari tempat makan atau warung sehingga mengurangi potensi sampah hingga mengolah sisa sampah organik rumah tangga dengan kotak kompos takakura, menurut saya sudah bisa membantu dalam skala rumah tangga.

Pertanyaannya adalah apa benar jika gaya hidup kita lebih ramah lingkungan dan dilakukan oleh sejumlah besar masyarakat bisa benar-benar menghemat penggunaan sumber daya yang tak terbarukan? Terlebih lagi membantu mengurangi dampak-dampak negatif pemanasan global diatas.

Pertanyaan tersebut mungkin masih belum terjawab hingga saat ini karena belum ada data yang keluar mengenai hal ini. Data dari kegiatan Earth Hour  jika 10% dari masyarakat Jakarta mengikutinya sudah bisa menghemat penggunaan listrik sebesar 300MWh atau bisa mematikan 1 pembangkit listrik. Yang artinya lebih menghemat penggunaan batu bara (sumber listrik kita masih berbahan bakar fosil) dan potensi polusi yang dihasilkan dari kegiatan produksi listrikpun berkurang. Kita tentu sudah bisa membayangkan berapa besar pengaruh kebiasaan mematikan lampu yang tidak digunakan, jika dilakukan oleh banyak orang dalam waktu yang bersamaan.  Akhirnya dari aktivitas mematikan lampu saja berpotensi  mengurangi dampak negatif dari pemanasan global.

Bagaimana Dengan Penghijauan?
Sekali-kali kita perlu juga ngobrolin dalam skala yang lebih luas sedikit. Kali ini soal penghijauan. Penghijauan memang salah satu solusi untuk mengurangi dampak negatif pemanasan global karena pohon menyerap CO2 dan melepas oksigen ke udara.  Menurut teman-teman efektif gak sih melakukan penghijauan untuk mengurangi dampak pemanasan global? Komen teman-teman akan saya gunakan untuk tema update postingan yang berikutnya.

Silahkan utarakan pendapatmu dikolom komen dibawah ini (sampai 30 April 2010) dan komen yang paling nyangkut menurut saya akan mendapatkan tote bag seperti yang didapatkan Dilla si Kepikcantik dibawah ini. Oh iya kali ini tersedia 2 tote bag yah.

PS: Gambar diambil dari blog posterous Dilla

48 thoughts on “Mendinginkan Semarang, Bisakah?

  1. selain penduduk nya harus lebih perduli pada global warming, melakukan suatu hal nya dengan berdasarkan keperdulian itu… seperti memisahkan sampah recycle dan organic, mengurangi penggunaan plastik, menghemat listrik dll… pemerintah juga harus ikut mendukung!!!!!!!!!!!!…

    seperti mengadakan tender pemisahan sampah ke perusahaan2 recycle… dan penghijauan pada kusus nya daerah pesisir semarang…

    Pohon2 di jalan besar semarang jangan ditebangi,.. dibersihkan dan dirawat jangan sampai ambruk pas ada topan… tapi jangan di tebang… contoh nya jalan setyabudi itu…

    bisa dibilang pohon2 di jalan setya budi itu sanctuary for the pelican birds.. ..

  2. Yang saya tangkap, adalah ajakan penghijauan untuk mengurangi dampak global warming. Fakta #1 dan #4 OK, sedangkan fakta #2, #3, #5 meskipun benar tapi kurang relevan. Ajakan untuk mengurangi plastik juga baik, tapi OOT… apalagi kalo nengok judulnya. los pokus? **kurang greget**

  3. Skala global gitu? Apa kabar industri di Cina yang menyetor polusi? Di Eropa memang dibatasi ya pengeluaran gas-gas beracun dari industri taaaapiiiii industrinya sama mereka dipindah, entah ke Cina, India, Indonesia, Malaysia, dan negara-negara dunia ke-3. Jadi sebenarnya ya sama aja.

    Efektif atau tidak? Saya cenderung pesimis mengingat yang gede-gede itu tadi ga juga sadar dan motifnya cari untung aja.

    Apakah kita kemudian diam saja? Tentu tidak. Karena biar bagaimanapun, 1 pohon membantu sekali dari pada tidak ada sama sekali. Kalau misalnya mungkin ya, hutam kota itu loh ditambahin dan taman kota sedikit dirimbunkan. Eh kalau dirimbunkan, nambah masalah sosial : pemuda-pemudi yang pacaran dan bikin anak di taman-taman kota.

    Kalau mau mendinginkan Semaran dut, ya mungkin saja kalau pemerintah daerahnya nyadar pentingnya hutan kota dan pentingnya ruang terbuka. Sehingga ruang terbuka tetap jadi ruang terbuka dan hutan kota tidak jadi lokasi bikin anak.

    Perlu pengorbanan sih ya. Pengorbanan untuk berkurang untung dari pajak pembangunan. Pengorbanan untuk tidak ekspansi usaha terlalu besar. Pengorbanan untuk merelakan sebagian tanah rumah kita ditanami pohon (dan kemasukan cacing setiap saat rumahnya).

    (iki jawaban dowo-dowo, nyambung ga ya?)

  4. tidak hanya Semarang yang makin panas, Palembang pun makin panas… Indonesia makin panas, tidak hanya memang udaranya yang panas, tapi juga lingkungannya pun ikut – ikutan panas, setelah negeri ini sibuk dengan drama Gayus dan Markus Pajak, Indonesia kembali harus menangis dengan tragedi Mbak Priok, belum lagi tragedi Batam antara eskpaktriat dan pekerja lokal.
    Indonesia tengah menangis dan bersedih, bagaimana kita mampu mendinginkan negeri ini, jika pemimpin di atas sana masih sibuk berjibaku menebalkan kantong sendiri …
    Aaagrrrrhhh Indonesia yang malang…
    *loh koq gak nyambung ya mas*
    *bingung* mode on
    btw memang harus dari diri sendiri untuk menyelamatkan negeri ini dari pemanasan global dan pemanasan yang lainnya itu …

  5. @Nining : memang agak unik pohon yang ada di Jl. Setiabudi itu :) … kapan kapan aku tulis deh

    @Pak DP : suwun pak untuk masukannya hihi~ ..mungkin kl dr gaya tulisan memang hrs diperbaiki pak :D . Maksud saya sebenarnya pemanasan global itu ada dampaknya di Semarang. Soal penghijauan saya ingin tahu pendapat teman-teman soal ini pak, belum dalam rangka mengajak sih soalnya saya sendiri kurang tekun salam soal menanam *jujurmodeon*

    @Sharon: nyambung kok komennya LOL

  6. Komennya soal global warming atau soal penghijauan nih, Mas? hehe…

    Aku pikir segala hal yang kecil, akan berdampak besar. Jadi semua harus dimulai dari diri sendiri, apakah itu membawa tas belanja dari rumah, mengurangi penggunaan bungkusan makanan sekali pakai, menyadari dan mengontrol penggunaan listrik dan AIR, dan mulai menanam pohon/tanaman di pekarangan sendiri.
    Aku pikir kalau ada cukup market-demand, dalam hal ini masyarakat yang lebih sadar akan pentingnya memelihara lingkungan, dan menginginkan layanan yang juga lebih ‘hijau’, menginginkan lahan hijau yang lebih banyak, lambat laun, penyedia layanan, termasuk dalam hal ini pemerintah, juga akan menanggapi trend tersebut.

    Jadi, aku pikir masyarakat jangan menunggu pihak-pihak yang besar untuk bertindak, tetapi harus mulai pelan-pelan dari diri sendiri. Let’s create a market demand for environmentally friendly services and products, and they will arrive, at least sooner rather than later.

  7. maksudmu mungkin pemanasan global itu tidak hanya bicara soal hal2 yang global, besar, dan muluk2 ya? Tapi juga berhubungan dgn hal2 kecil, remeh temeh, (kelihatannya) ga penting.

    TAPI, kalau hal kecil2 yg remeh temeh itu dilakukan banyak orang – akan berdampak baik untuk mengurangi pemanasan global – yang berhubungan dengan point 2,3,5
    :) ngerti kok. mungkin kurang panjang aja postingannya. harusnya dibuat proposal kali ya
    hahahahahaha *ketawa setan*

  8. Bisa sekali, dut! Paling tidak mengurangi panasnya, skala lokal…
    Coba pemerintah kota Semarang mencoba menghitung luasan RTH (Ruang Terbuka Hijau) yang ada sekarang. Trus coba dipenuhi minimal luasannya sesuai UU sebesar 30%.
    Itu aja masih susah lho… Belom ada yang bener2 peduli soal taman kota, ruang hijau. Coba diurus beneran… Gak mustahil nanti Semarang bakal punya Central Park macem di New York. :D

  9. Iya itu luasan minimum yang disyaratkan UU Tata Ruang tentang Ruang Terbuka Hijau. Baik untuk ruang publik ato ruang privat.
    Nah kalo masalah taman kota, memang bukan hanya urusan pemerintah, tapi selama ini masyarakat tampaknya juga kurang ikut ngopeni. Image-nya tuh pasti tempat middle-low class berkumpul, jd males ikut berkunjung dan bikin taman jadi sepi trus kotor deh….

  10. penghijauan emang efektif, rumahku aja banyak pohonnya meskipun cuaca terik tapi tetep silir… rindang… pokoke enak wis… eh beneran loh… bandingin sama daerah kantor ku di bubakan… ga ada pohon babar blas… skali nya panas, panasnya mbangeti… skali nya ujan… ujannya mbangeti… banjir…

    kalo mau nggagas penghijauan untuk mencegah global warming sekarang… buat ku tu percuma… udah telat… maksutku… tanem pohon skarang besok kan ga langsung gede… jadi otomatis butuh waktu bertahun2 baru kerasa manfaatnya… tapi meskipun telat ga ada salahnya mulai penghijauan buat anak cucuk besok :p~

    Mau minta dukungan pemerintah, ah cabe deh… palingan juga urusan malah tambah ribet… mengusulkan UU bla bla bla ah basi… mendingan mulai penghijauan dari diri sendiri aja… tanem pohon di rumah kek, pisahin sampah rumah tangga organin/non organik, ato matiin listrik diatas jam 11 malem… yang simpel2 aja mulai dari diri sendiri…

    *iki komen ne nggambus*

  11. Nanem pohon untuk mengurangi dampak pemanasan global..? SUPER EFEKTIF! Kita lihat di sini bukan kuantitas pohon yang ditanam, tapi kualitas dan maintenance dari penanaman pohon itu sendiri. Misalnya, mau jalanan adem tapi nanemnya pohon cabe, et dah kayaknya kurang ngepek ya bapak bapak.. ibu2.. :D Nah tapi kalo misalnya di jalan besar (khususnya perkotaan) mau ditanem pohn, tanemlah pohon2 yang emang banyak manfaatnya. Misalnya aja pohon Trembesi yang menghisap C02 berton-ton dalam setahun. Itu baru satu pohon lho! Gemana kalo banyak pohon..? Ck ck ck..

    Lalu ngomongin maintenance atau perawatan. Jangan kalo udah ditanem terus kagak diapa2in.. Kesian itu pohon2 ciliknya nak. Sama aja orang ngelahirin anak, tapi kagak dirawat. Yang ada tu anak stress trus mokat di usia belia. Halah.. Nggak mau kan hidup kita jadi taruhannya atas dampak pemanasan global..? makanya.. Ayo nanem pohon bareng2 dan jangan lupa untuk merawatnya ya.. CHEERS!

    PS: Ngarep dapet tote bag.. whoo hoo! ;)

  12. Yang pasti menghijaukan kota semarang, kalau menurutku dengan cara 1 orang 1 pohon dilahan sekota semarang, entah itu dihalaman rumah atw dipinggir jalan yg terlihat gersang. Dilakukan penanaman serentak dan wajib hukumnya penghijauan kembali. Tentunya harus ada dukungan dari pemerintah kota.

  13. Pemanasan global? Ahem… topik yang berat! *kata ibu-ibu arisan*
    Yang pasti menanam pohon banyak gunanya, dan layak digalakkan diantara ibu-ibu peserta arisan. Misalnya, pas arisan kan suka ada demo masak/panci dan alat rumah tangga tuh… Sekali waktu demo menanam pohon Trembesi atau jenis pohon yang kuat dan bermanfaat. Lalu setiap ibu diberi bibit pohon untuk ditanam di rumah atau (kalau nggak punya halaman) di tanah kosong manapun di dekat rumahnya. Jadi menggalakkan penghijauan dan menggalang keakraban, sekaligus!

    Nah, saya dulu di tempat kos nggak ada halaman. Jadi hanya bisa menanam pohon, eh, bunga di pot. Tapi sejak pindah rumah sekarang udah punya pohon mangga utk peneduh, palem utk penghias, pepaya, cabe dan pandan utk dipetik buah dan daunnya. Agenda jangka panjang, ya itu tadi, ngajak para IIM (Ibu-Ibu Muda) disini untuk menanam pohon rame-rame. Sementara saya mulai dululah dari halaman rumah sendiri. Ya nggak?

    Begitu pula soal memakai tas kain untuk belanja, biar nggak perlu menerima kresek dari supermarket dan pasar tradisional. Saya baru mulai melakukannya dan mengajak suami serta PRT melakukan hal serupa. Langkah awal saya dimulai dari posting ini:
    http://sabai95.wordpress.com/2010/03/30/mereka-mati-percuma-tega/#comment-371

    Jadi tas kain cantik seperti gambar diatas tentu akan lebih memacu semangat buat menolak tas kresek saat belanja! *Ahem*

    1. Jadi tas kain cantik seperti gambar diatas tentu akan lebih memacu semangat buat menolak tas kresek saat belanja! *Ahem*

      hahahaha~ tetap semangatttt!

  14. Semarang puanas!! Empat tahun di Tembalang (saya kuliah di UNDIP) membuktikan hal itu. Padahal Tembalang terletak di dataran atas Semarang, harusnya kan lebih adem daripada Semarang bawah, Simpang Lima dan sekitar kan? Tapi, kenyataannya kok enggak ya?

    Semarang atas itu gersang banget! Bisa dilihat keadaannya, kebanyakan lapangan pasir luas, dan padang rumput. jarang sekali pepohonan, apalagi taman!
    dulu pernah ada gerakan penanaman pohon serentak, namun dengan seenaknya tunas pohon itu dimakan oleh ternak milik warga yang dibiarkan berkeliaran tanpa adanya pagar.

    laluuuu..
    banyaknya rumah kos, tidak menyisakan lahan hijau. Terkesan kumuh, dan padat. kalo lama-lama dibiarkan, bisa-bisa Semarang menjadi kumuh seperti Jakarta.

    jadi, harus ada kerja sama dari masyarakat juga. Kesadaran dari masyarakat jika lingkungan hijau itu diperlukan sangat mempengaruhi fungsi lingkungan disekitarnya. Fungsi lingkungan harus diperjelas. masyarakat perlu menyisihkan sedikit lahan untuk daerah hijau.

    1. harusnya dlm beberpa tahun ke depan kampus tembalang bisa spt kampus UI depok yang adem, mudah mudahan perawatan pohon pohon di tembalang berlanjut yah

  15. susah om, wong dasarnya semarang itu pinggir laut. sama saja kayak probolinggo ato pasuruan, sidoarjo, pinggir laut itu panas, sudah kodratnya.

    tapi kalo pertanyaannya bisakah membuat semarang lebih dingin? bisa. tapi ya itu, bedakan dulu antara dingin dengan lebih dingin. *riwil*

  16. Hai Dut,
    Kalau saya mikirnya simpel aja. Kita mau sehat kan? Penelitian yang sudah jelas adalah kota makin sehat bila banyak lahan hijau, jadi kalau kita bisa menanam, even satu pohon saja pun itu sudah lumayan membantu membuat bumi jadi sedikit segar.

  17. Mas, tak kiro suroboyo iku panase nemen, jebule semarang luwih nemen, opo maneh cerak terminal, semarang bagian nisor… ampun… pemkot dan pemda semarang kudu berbenah banget untuk semarang bagian bawah…. yang bagian atas, ungaran dan sekitarnya, sudah keren dan bikin betah orang untuk tinggal.

    Gaya hidup secara personal memang harus diubah, seperti belanja dengan tas bawaan sendiri dari rumah, namun secara kelembagaan, pemerintah wajib mengupayakan tata kota yang baik dengan tidak mengedepankan kekerasan dalam penertiban kota. Misal, butuh lahan serapan atau hutan kota, jika tak ada lahan, pembebeasan lahannya jangan sampai mengorbankan rakyat kecil. Ada tawar menawar yang imbang.

  18. memang semarang skrg ni sudah mulai panas bgt.
    diruangan waktu siang hari aja mungkin keringetnya hampir sama dengan orang yang lari pagi tiap hari.

  19. “Menurut teman-teman efektif gak sih melakukan penghijauan untuk mengurangi dampak pemanasan global?”

    *Ini jadinya ngomong Semarang apa global mas? hehehe rodo ra nyandhak aku*

    Jawab:
    Menurut saya penghijauan itu nggak cocok untuk mengurangi dampak panas mas. Karena tujuan penghijauan adalah membuat sebuah tempat menjadi hijau. Istilahnya hijau-isasi. Bisa jadi sama seperti kuning-isasi pas saya masih SD dulu. Untuk mengurangi dampak panas, maka yang tepat dilakukan bukanlah penghijauan, melainkan pendinginan.

    Kalo cara mendinginkan Semarang, wooh itu gampang. Sudah pernah jalan-jalan ke Lawang Sewu? Pernah turun ke ruang bawah tanahnya yang penuh air? Memang tempatnya seram seperti wajah Suzanna. Namun tahukah Anda jika ruang yang biasa dipakai uji nyali itu adalah sebuah AC raksasa di zamannya? Ruang bawah tanah yang lembab ini lah yang membuat Lawang Sewu ini everlasting ademnya. Tidak seperti kos saya yang sumuknya naujubilah.

    Tentu saja teknologi ini ramah lingkungan. Dan dijamin tidak akan membuat ozon bolong.

    Maka kalo saya menjadi walikota Semarang, yang saya perintahkan pertama bukanlah membayar pajak untuk saya korupsi. Tapi saya akan memerintah warga Semarang untuk bikin ruang bawah tanah. Tujuannya ada banyak: Pertama, it will keep your house cool. Kedua, ini bisa jadi solusi buat banjir rob yang sering melanda Semarang bagian utara. Alirkan saja air ini ke ruang bawah tanah.

    Dulu, sebenernya untuk mengatasi banjir rob ini pemerintah Belanda sudah membuat polder (kolam raksasa) di depan stasiun Tawang. Sayangnya, hari ini, polder indah tersebut malah jadi jamban raksasa. Ironis.

    Udah mas, itu solusi saya. Maaf kalo ndak muasuk. :p

  20. Kebetulan sebagai sesama warga Jateng, saya beberapa kali mengunjungi Semarang. Persis seperti yang mas rasakan selain idektik dengan panas Semarang juga identik dengan yang namanya banjir toh. Bicara efektif tidaklah penghijauan menurut saya bisa dilihat berbagai segi. Efektif tidak kan tergantung tujuan dan sasaran yang hendak dicapai. Dan kita lihat penghijauan itu tujuan dan sasaran apa? Berapa lama mau dicapai? Baru bilang efektif atau tidak?

    Tapi kita bukan memandang semua program pemerintah, pada prinsipnya saya setuju dengan program pemerintah tersebut. Jelas, penghijauan itu ada manfaatnya, bisa kecil atau besar (paling tidak yang mendapat manfaat langsung para pekerja yang yang menanam dan memelihara pepohonan tersebut, penjual pohon yang diberi dan pemenang tander program itu sendiri pastinya). Namun apakah penghijauan bermanfaat bagi sebagian luas perlu dikaji. Karena menurut saya program pemerintah sering bertolak belakang ibarat politik belah bambu. Menolong yang satu merugikan yang lain. Bermanfaat bagi yang lain memberi mudharat bagi sesama. Bener kita disuruh melakukan penghijauan menanam pohon berjuta-juta , tapi lihat di sana industri kertas dan sejenisnya membabat habis hutan kita, bangunan demi atas nama industrialisasi berdiri lebih cepat dari pada tumbuhnya pohon penghijauan kita.

    Jadi, menurut saya bukan tidak ada manfaatnya penghijauan namun bila tidak dibarengi dari niat pemimpin untuk mempertimbangkan ideologi industrialisasi tanpa batas dan menambah ruang hijau kurang berhasil guna secara maksimal. Memang itu lebih bermanfaat bila tanpa penghijauan sama sekali. IMHO thalique

  21. Ya ampun!! Di atas ini ada komentar dari mas Thalique!! Mas T apa kabar..?! Ciyeh.. eksis juga nih.. ;)

    PS: Eh OOT maaf, siapa tau banyak komen kans dapet tas makin gede.. Uhuk.

  22. Sungguh sangat berat untuk memilih komen-komen disini untuk yang mendapatkan tote bag kali ini. Sampai mikir 2 hari buat milih komennya :P … dan karena berat saya memilih 4 komen yang mendapatkan tote bag dari yang semula hanya 2 (baik hati gak saya? *dikaplok*)
    Komen(ter) yang mendapatkan tote bag kali ini:
    – Titiw
    – Pizka
    – Sharon
    – Thalique

    Have a green life!

  23. wah, mendinginkan semarang ya? setiap ke semarang, saya selalu merasa panas..mirip2 dengan di Yogya. berarti sekarang semakin panas ya? kebetulan udah lama banget ga ke sana
    menurut saya, kebiasaan2 sederhana yang dilakukan di tingkat rumah tangga penting untuk terus dilakukan. ini bisa punya efek jangka panjang. kalo anak cucu sudah dibiasakan, nanti kalo mereka jadi pemimpin2 di perusahaan2 atau institusi. mereka (mudah2an) akan perhatian dg lingkungannya.
    Kalau dr industri. ya, kalo dilihat dari skala angka, memang merekalah yang harus wajib kudu melakukan sesuatu untuk menyelamatkan lingkungan. melakukan sesuatu untuk mengurangi pemanasan global.
    saya setuju dg pendapat mas Thalique (salam kenal mas ), selain penggalakan program penghijauan (btw, kenapa istilahnya penggalakan ya?kesannya serem :p), memang seharusnya diimbangi dg penggalakan industri yg ramah lingkungan.

  24. Wow wow wow!! Aku menang tote bag!! YAAAAY!! Eh btw yang namanya mas Thalique itu temenku loh di jkt! hihihi.. Eh kamu ngirimnya gemana nih..? coba dong tolong tata caranya kita dikabari.. Hemph..

  25. nice..
    Sebenernya sih menurut hemat ane salah satu indikator nyata perubahan cuaca skala lokal di semarang terletak di hutan semarang (atasnya sampangan; lupa ni ane ^^!) yang sudah mulai menipis karena konversi hutan untuk pemukiman. Ditambah lagi seiring bertambah penduduk sangat mendukung bisnis diatas dan berpengaruh terhadap segala tekanan terhadap alam. So intinya saran gue KB tetep ditegakkan di bumi ini :)

  26. Just desire to say your article is as amazing. The clearness in your post is simply great and i could assume you are an expert on this subject.
    Fine with your permission allow me to grab your feed
    to keep up to date with forthcoming post. Thanks a million and
    please keep up the enjoyable work.

  27. Today, I went to the beachfront with my kids. I found a
    sea shell and gave it to my 4 year old daughter and
    said “You can hear the ocean if you put this to your ear.” She put
    the shell to her ear and screamed. There was a hermit crab inside
    and it pinched her ear. She never wants to go back!
    LoL I know this is totally off topic but I had
    to tell someone!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s